Status perlindungan spesies di Indonesia yang kian memprihatinkan (sebuah opini)

Oleh M. Asyief. Kh. B

(Kabid Lingkungan Hidup Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bogor, Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumbaerdaya Hutan dan Ekowisata (HIMAKOVA) angkatan 46, Pemerhati Lingkungan)

Situasi politik negeri akhir-akhir ini membuat suasana sistem tata kelola penyelenggaraan negara menjadi semakin kacau. Melihat dr sektor kehutanan, teradi sebuah dilematika yang besar sehingga sektor ini pun kelimpungan dalam pengurusannya. Permasalahan-permasalahan akar dan klasik seperti perambahan, pembakaran, perburuan liar menjadi bahan yang begitu mudah dilontarkan untuk membuat berita. Eksploitasi hutan tanpa mempertimbangkan nilai ekologis dan sosial pun menjadi topik hangat yang selalu diperbincangkan.

Peraturan-peraturan, undang-undang yang menjadi buku sakti para rimbawan dirasa ada banyak hal yang perlu dikoreksi. Layaknya untuk perlindungan satwa dan tumbuhan yang ada di PP No 7 Th 1999 merupakan sebuah peraturan dari pemerintah yang digunakan sebagai legitimasi hukum perlindungan satwa dan tumbuhan tertentu. Pada praktiknya ternyata perlindungan ini kurang dilakukan secara maksimal mulai dari aparat penegak hukumnya, para jaksa, dan pejabat lain yang berwenang. Para wakil rakyat pun belum tentu memikirkan apalagi memahami hal ini. Tidak heran bila pengurusan dan pembelaan dalam tataran elit selalu diabaikan.

Peraturan pemerintah yang disebut di atas dirasa telah usang dan tidak relevan lagi. Terlihat pada lampiran peraturan tersebut tercatat daftar nama-nama satwa dan tumbuhan yqng dilindungi oleh negara. Namun celakanya ada beberapa spesies yang sudah mengalami status hampir punah dengan tingkat keterancaman yang tinggi namun belum dimasukkan dalam daftar tersebut. Selain itu ilmu pengetahuan yang begitu cepat perkembangannya menjadikan peraturan ini terlihat semakin usang. Pemberian nama ilmiah pada spesies-spesies yang baru ditemukan, fenomena pemisahan atau penggabungan nama spesies dalam taksonomi, penggabungan atau pemisahan nama suku dalam taksonomi hal tersebut berpengaruh terhadap legitimasi hukum terutama mengenai perlindungan terhadap spesies-spesies tertentu. Pengaruh yang secara pasti ialah status perlindungannya, sebagai contoh spesies a merupakan bagian dari suku x pada saat peraturan tersebut dikeluarkan, namun setelah sekarang tahun 2015 ilmu pengetahuan banyak perkembangan menghasilkan spesies a tersebut dikeluarkan dari suku x dan dibuatkan nama suku y atau digabung dengan suku z. Artinya ada beberapa spesies yang sebelum penggabungan/pemisahan ialah spesies yang dilindungi menjadi tidak dilindungi atau bisa pula berlaku sebaliknya.

Secara bahasa paeneliti dan di lingkungan akademisi memang sudah bukan barang langka lagi mengetahui bagaimana perkembangannya. Namun apakah hukum yang sebagai tolakan utama eksekusi di lapangan sudah berkembang pula? Jawabannya stagnan. Beberapa pekerjaan DPR seperti menganaktirikan kepentingan2 konservasi atau keseimbangan alam dan manusia. Hal ini menyebabkan petugas dan pejabat lapang menjadi cenderung ogah-ogahan dalam melaksanakan kebijakan-kebijakan yang ada. Hasilnya sudah terlihat seperti apa penanganan kasus-kasus yang bersinggungan dengan perlindungan spesies.

Selama ini belum jelas apa kriteria yang digunakan oleh pemerintah sehingga keluarlah aturan semacam itu. Pada beberapa kasus ada spesies yang memang dianggap hama oleh masyarakat di sebuah pulau, namun ternyata spesies tersebut adalah spesies yqng dilindungi, dan spesies tersebut merupakam endemik di pulau tersebut. Hal ini membuat dilema beberapa aktivis lingkungan, apakah akan membela masyarakat atau konservatif pada spesies yang dilindungi tersebut. Untuk itu perlu kajian hukum yang lebih komprehensif mengenai status perlindungan spesies. Peran akademisi dalam memberikan hasil-hasil riset pada para pengambil kebijakan pun perlu terus dilakukan untuk mendorong pemerintah memperbaharui peraturan-peraturan yang sudah usang dan tidak relwvan lagi dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

Categories: Articles | Leave a comment

Memperingati Hari Sumpah Pemuda, Merefleksikan Gerakan Pemuda Di Indonesia Dengan Berkarya

Oleh : M. Asyief Khasan B

Sumpah pemuda merupakan sebuah konsep kesatuan dalam berbangsa, berbahasa, dan bertumpah darah yang satu yaitu Indonesia. Sumpah pemuda yang dibacakan pada 28 Oktober 1928 bisa disebut-sebut sebagai sejarah berdirinya konsep Negara Kesatuan Indonesia. Karena dengan kesatuan ini, diyakini kesengsaraan dan penjajahan yang telah berlangsung ratusan tahun di bumi nusantara ini dapat diakhiri. Tentunya dengan perjuangan yang keras dan juga dengan pengorbanan yang tidak sedikit, mulai dari pengorbanan waktu, pikiran, tenaga, usaha, bahkan sampai nyawa menjadi bayarannya. Untuk itu perlulah kiranya kita bisa mengingat dan mempelajari teladan baik dari sejarah bangsa Insdonesia. Hal ini bisa kita baca di berbagai buku dan juga internet. Namun hingga saat ini rasanya semangat perjuangan dari pemuda di Indonesia untuk memajukan bangsa hingga dapat sejajar secara harkat martabat dan kedaulatan kemandiriannya belumlah secara terpadu. Hal ini justru cenderung menjadi lebih puritan dan tersebar secara tidak terstruktur. Perlu kiranya menyamakan suhu dan cita-cita besar bersama layaknya sumpah pemuda yang terjadi kala itu.

Sumpah pemuda pada awalnya merupakan hasil keputusan Kongres pemuda indonesia ke dua yang dilaksanakan pada tanggal 27 -28 Oktober 1928 di Batavia (Jakarta) merupakan salah satu tonggak sejarah yang penting bagi perjuangan kemerdekaan di Indonesia. Dalam kongres tersebut tercetus semangat persatuan dan kesatuan pemuda di Indonesia untuk menyatukan cita-cita bersama, yaitu berdirinya Negara Indonesia. Berbagai organisasi kedaerahan dari penjuru nusantara menuangkan semangat perjuangannya dalam tiga butir kesepakatan bersama yang dibacakan oleh Soegondo dan diikuti oleh seluruh peserta kongres pada akhir kongres yaitu pada tanggal 28 Oktober 1928.

Hasil kongres pemuda ke dua tersebut kemudian hari dikenal dengan nama sumpah pemuda. Semenjak hari itu lah semangat pemuda di Indonesia semakin terbakar dan berjuang bersama-sama untuk mendirikan dan memerdekakan Negara Indonesia yang akhirnya dapat dicapai pada 17 agustus 1945. Butir-butir sumpah pemuda tersebut berisikan sumpah pemuda Indonesia yaitu:

Soempah Pemoeda

PERTAMA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Bertumpah Darah Yang Satu, Tanah Indonesia).

KEDOEA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Berbangsa Yang Satu, Bangsa Indonesia).
KETIGA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia).

 

Kongres Pemuda II dan Sumpah Pemuda

Pada kongres tersebut, organisasi kedaerahan yang mengikutinya diantaranya ialah Joung Java, Joung Sumatranen Bond, Jong Batak, Joung Celebes, Jong Islamiten Bond, Jong Ambon dan lain-lain, serta dihadiri pula oleh beberapa pengamat pemuda tionghoa seperti Kwee Thiam Hong, John Lauw Tjoan Hok, Oey Kay Siang dan Tjoi Djien Kwie. Sementara penyelenggara dan penggagas dari adanya Kongres ini ialah Perhimpunan Pemudan dan Pelajar Indonesia (PPPI). Kongres diselenggarakan di tiga lokasi yang berbeda dan dalam tiga bahasan yang berbeda.

Bahasan pertama atau yang dinamakan rapat pertama diselenggarakan pada tanggal 27 Oktober 1928 di gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng). Pada rapat pertama ini dibahas mengenai semangat persatuan dalam pemuda. M Yamin menyampaikan ada lima poin penting dalam persatuan, yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan. Selain itu pimpinan PPPI yaitu Soegondo Djojopoespito menyampaikan bahwasanya ia berharap dengan adanya kongres ini dapat memperkuat persatuan dalam diri para pemuda.

Bahasan kedua diselenggarakan di Gedung Oost-Java Bioscoop Batavia pada 28 Oktober 1928. Pada rapat tersebut dibahas mengenai pendidikan. Disepakati bahwasanya pendidikan mengenai kebangsaan memang perlu dan pendidikan mengenai kebangsaan harus diberikan pada tiap-tiap anak. Selain itu pendidikan juga harus seimbang dimana pendidikan di sekolah dan di rumah proporsinya haruslah seimbang. Rapat juga membahas mengenai pendidikan harus dilakukan secara demokratis. Pada rapat ini pembicara utamanya ialah Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro.

Rapat ketiga atau bahasan terakhir dalam kongres pemuda ini dijadikan sebagai rapat penutup. Rapat ini dilakukan pada tanggal 28 Oktober 1928 di gedung Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106. Pada rapat ini dibahas mengenai nasionalisme dan juga demokrasi. Selain itu dibahas pula mengenai kepanduan, kemandirian, dan kedisiplinan anak serta pemuda.

Setelah semua rapat berakhir maka kongres pemuda ini pun diakhiri dengan pidato-pidato dari utusan masing-masing unsur pemuda. Naskah sumpah pemuda yang dibuat oleh M Yamin dan diberikan kepada Soegondo di saat-saat terakhir kongres untuk ditandatangani saat Soenario sebagai utusan kepanduan memberikan pidatonya. Kemudian naskah tersebut dibacakan oleh Soenagondo dan dijelaskan panjang lebar oleh M Yamin. Selain pembacaan naskah, sempat diperdengarkan pula untuk kali pertama lagu Indonesia Raya yang diciptakan oleh WR Soepratman dan dimainkan oleh penciptanya langsung.

Arti Penting Sumpah Pemuda Bagi Pergerakan Pemuda di Indonesia

Sumpah pemuda merupakan salah satu bukti sejarah yang memperlihatkan bahwasanya gerakan pemuda bukanlah gerakan yang dapat dianggap remeh. Dari sumpah pemuda tersebut ini merupakan awal sejarah pemuda di Indonesia dapat dipandang untuk berperan aktif dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Selain itu sumpah pemuda juga merupakan ruh dari pergerakan pemuda di Indonesia untuk terus mengawal keutuhan dalam berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Arti penting lainnya sumpah pemuda juga merupakan sebuah blue print dari bangunan negara yang toleran dan menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan. Tonggak sejarah ini perlu kita maknai sebagai semangat berjuang dan juga semangat untuk membangun negara ini. mengingat sebagai pemuda juga semangat masih bergolak, selain semangat pemuda juga merupakan harapan penerus bangsa, sehingga diharapkan pemuda di Indonesia dapat terdidik dan memiliki semangat untuk memajukan dan memakmurkan bangsa dan negara.

Pergerakan pemuda di Indonesia dewasa ini pun mengalami geliat yang semakin positif. Melihat hal ini maka pemerintah pun perlu merespon lebih positif lagi dan juga membina langsung maupun tidak langsung. Hal ini sejalan dengan semakin banyaknya aktivitas-aktivitas yang sering dilakukan organisasi kepemudaan dan juga kemahasiswaan di Indonesia. Namun masih banyak pemuda di Indonesia yang perlu diajak lagi untuk berkegiatan, agar mempersiapkan masa depan bangsa yang lebih cerah lagi. Generasi anti korupsi, anti narkoba, forum-forum diskusi, forum penggiat lingkungan dan lain sebagainya merupakan sebuah capaian yang bisa dikatakan positif untuk aktualisasi diri bagi individu yang ada di dalamnya serta bagi masa depan negara. Hal-hal semacam kekerasan antar kelompok pemuda, kenakalan remaja, kejahatan dibawah umur, narkoba, prostitusi anak, perdagangan manusia merupakan beberapa hal yang menjadi tantangan bersama pemuda Indonesia. Untuk itu lah perlu adanya komunikasi aktif antar pemuda serta pendidikan-pendidikan untuk lebih memahami arti kesatuan dan persatuan demi membangun negeri.

Pemuda Indonesia dengan jiwa muda dan semangat membara pun masih memerlukan perhatian lebih dari pemerintah. Akomodasi untuk berkarya, pendidikan yang layak, serta dukungan secara moriil dan materiil perlu terus diupayakan dan diberikan dalam rangka mempersiapkan pemuda-pemudi di Indonesia untuk menghadapi globalisasi. Era yang mempermudah informasi seperti sekarang perlu diisi oleh pemuda-pemudi indonesia dalam kekaryaan. Sudat bukan zamannya lagi untuk beretorika dan berwacana. Saatnya berkarya dan mengabdi dengan jalan apapun selama masih positif dan mengikuti aturan-aturan yang ada.

Categories: Articles | Leave a comment

Jambore Capung Indonesia 2014 ajang pembelajaran dan kompetisi foto untuk para pengamat capung

Jambore capung Indonesia 2014 ialah suatu acara jambore untuk para pengamat capung di Indonesia baik yang masih pemula maupun yang sudah ahli. Even ini merupakan even jambore capung yang pertama di Indonesia. Bagi para pemula pengamat capung, even ini sangat berguna untuk mendalami ilmu-ilmu tentang capung dan bisa belajar langsung dari ahlinya. Acara ini berlangsung selama tiga hari yaitu pada tanggal 16 – 18 Mei 2014 di kampus Biologi Universitas Diponegoro (Undip) dan Danau Rawa pening. Acara yang disuguhkan kepada peserta jambore dari panitia ialah workshop tentang capung dan ekologinya, manfaat dari keberadaan capung dan hal-hal lain yang berkaitan seperti pelatihan identifikasi capung, sharing mengenai capung di daerah masing-masing peserta dan hal-hal lain mengenai capung. Menariknya dari jambore capung, selain kegiatan di ruangan, juga ada kegiatan di luar ruangan, yaitu fieldtrip ke rawa pening sebagai bentuk pengenalan salah satu habitat capung. Panitia pun mengadakan kegiatan pendidikan tentang capung kepada anak-anak di sekitar rawa pening. Selain itu ada pula lomba fotografi sains capung sebagai bentuk studi lapang yang dilakukan oleh fotografer dan pengamat capung. Peserta yang mengikuti jambore capung ada yang berasal dari sumatera, sulawesi, nusa tenggara, dan jawa.

Kegiatan dimulai di kampus Undip pada tanggal 16 Mei 2014 tepatnya di Laboratorium Biologi Lantai 3. Acara pertama yaitu registrasi peserta dan pembagian kit kepada para peserta. Selepas peserta memasuki ruangan, pembukaan acara dan sambutan-sambutan pun dilakukan. Materi yang dipaparkan pada hari ini ialah pemaparan mengenai kondisi lokasi yang akan dijadikan lokasi fieldtrip dan workshop mengenai capung. Pemaparan kondisi lokasi yaitu mengenai rawa pening yang dipaparkan langsung oleh ibu Tri Retnaningsih sebagai akademisi dan bapak Wahyudijoko sebagai praktisi. Pemaparan tersebut membahas mengenai isu-isu tentang rawa pening dan hal-hal yang telah dilakukan oleh pemerintah terkait rawa pening. Pemaparan kedua ialah workshop mengenai capung yang dipandu langsung oleh ibu Pungki Lupiyaningdyah sebagai ahli serangga khususnya capung dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Workshop ini dimulai dari pemaparan mengenai peran capung terhadap ekosistem dan manfaatnya sebagai bioindikator lingkungan khususnya daerah – daerah perairan. Setelah pemaparan mengenai seluk-beluk capung, acara selanjutnya ialah ishoma yang kebetulan pada hari ini ialah hari jum’at. Selepas ishoma peserta kembali ke ruangan untuk melakukan pelatihan identifikasi capung. Kegiatan ini pun masih dipandu oleh ibu Pungki dan sekaligus didampingi oleh kawan-kawan Indonesia Dragonfly Society (IDS). Pelatihan ini berlangsung secara kondusif dan peserta memperhatikan sekali apa yang dipaparkan dan sekaligus dipraktekkan. Selain itu diberikan pula materi mengenai penulisan ilmiah yaitu berupa jurnal ilmiah. Pada sesi ini peserta diarahkan untuk membiasakan diri menulis secara ilmiah agar informasi-informasi mengenai capung mudah disebarkan ke berbagai daerah dan bisa dijadikan rujukan, karena tulisannya berupa tulisan ilmiah.

kegiatan saat di ruangan kegiatan praktek identifikasi capung para peserta jambore capung

Usai workshop peserta pun diberikan waktu untuk ishoma dan persiapan untuk berangkat menuju lokasi fieldtrip di rawa pening. Peserta pun melakukan persiapan dan setelah semua siap, peserta berangkat bersama-sama dengan kendaraan berupa truk yang telah disediakan oleh panitia. Selama perjalanan, peserta saling bercanda ria untuk menambah keakraban antar peserta. Setelah sampai di lokasi rawa pening, peserta dikumpulkan di camp pusat dan juga diarahkan oleh panitia untuk menempati rumah-rumah penduduk sekitar rawa pening yang bisa ditempati oleh para peserta untuk menginap. Setelah peserta diantarkan ke rumah menginapnya masing-masing, peserta pun melakukan ishoma dan malam hari sekitar jam 7 malam peserta kembali ke camp pusat untuk kegiatan ramah tamah dari desa. Peserta pun disambut hangat oleh kepala desa dalam acara ramah tamah ini. usai ramah tamah peserta diarahkan untuk perkenalan komunitas atau kelompok pemerhati capung di daerah masing-masing dan juga sharing mengenai capung di daerah masing-masing. Usai sharing yang hingga sekitar pukul 22.00 WIB, peserta dipersilahkan untuk kembali ke rumah menginapnya masing-masing untuk istirahat.

Pagi hari esok harinya pada tanggal 17 Mei 2014 sekitar pukul 07.00 WIB panitia mengarahkan peserta untuk kumpul kembali di camp utama. Peserta dikumpulkan untuk diberi briefing acara pada hari itu. Acara yang paling ditunggu oleh para fotografer ialah lomba fotografi. Peserta lomba fotografi diarahkan untuk mengambil gambar fotografi sains yang sebelumnya kebanyakan peserta belum tahu apa itu fotografi sains. Pengumpulan foto paling lambat ialah pada pukul 17.00 WIB. Demi menunjang lomba tersebut, panitia pun memberi kesempatan kepada para peserta baik yang mengikuti lomba foto maupun yang tidak untuk berkeliling rawa pening dengan menggunakan perahu yang telah disewa oleh panitia. Bagi yang tidak mengikuti lomba foto hanya berhak mengikuti jalannya acara, namun bagi yang mengikuti lomba foto nantinya dipersilahkan untuk mengumpulkan foto sebelum pukul 17.00 WIB. Peserta berkesempatan untuk berkeliling rawa pening dan melihat-lihat kondisi rawa pening sekaligus bagi yang mengikuti lomba foto bisa mencari objek untuk dilombakan. Usai berkeliling dan mencari objek foto sehari penuh, peserta lomba foto mulai memilih dan mengumpulkan foto-foto terbaiknya yang dilombakan. Setelah itu, peserta dipersilahkan kembali ke rumah menginapnya masing-masing untuk isoma dan diminta untuk kembali berkumpul di camp utama pada sekitar pukul 19.00 WIB.

Pada malam harinya peserta berkumpul sekitar pukul 19.00 WIB di camp utama. Pada kegiatan kali ini disuguhkan pemaparan mengenai sains fotografi oleh pak baskoro. Pemaparan ini membahas mengenai arti pentingnya fotografi dalam mendukung sains. Namun sains fotografi ialah bukan hanya fotografi yang hanya memunculkan artistiknya, namun lebih banyak memunculkan keterangan-keterangan kunci atau detail-detail dari tiap individu yang difotonya agar bisa memberi keterangan yang dibutuhkan dalam sain. Sebagai bukti pemateri memberikan contoh kasus pada beberapa jenis capung dan memperlihatkan foto seperti apa yang bisa memunculkan keterangan-keterangan yang dibutuhkan pada sains fotografi, jadi bukan hanya memunculkan artistiknya seperti pada fotografi biasanya. Peserta pun begitu khidmat dan terkesima dalam memperhatikan pemberian ilmu baru yang didapatkannya. Kegiatan pemaparan tersebut pun dihiasi dengan diskusi-diskusi yang hangat, santai namun serius. Usai pemaparan tersebut peserta melanjutkan sharing mengenai capung di daerah masing-masing. Beberapa tempat ada yang sudah terdata secara rapi, namun beberapa tempat yang lain masih sedang dilakukan pendataan, dan ada juga yang belum sama sekali. Hal ini menjadi suatu pemicu semangat bagi tempat-tempat yang belum terdata untuk segera didata.

penjelasan fotografi sains oleh pak baskoro foto-foto yang menjadi identifikasi jenis

Kegiatan sharing pun berakhir sekitar pukul 22.00 WIB. Setelah sharing sebagai penutup pak Wahyu Sigit Rhd selaku ketua IDS menyampaikan untuk berkonsolidasi antar pengamat capung, apakah kegiatan jambore seperti ini perlu dilakukan atau sudah berhenti saja. Peserta pun menyepakati untuk tetap ada kegiatan jambore seperti ini. namun untuk lokasi dan waktu diadakannya belum disepakati, dan melihat perkembangan nantinya saja. Setelah selesai konsolidasi yang hanya berlangsung selama kurang lebih 30 menit tersebut peserta membubarkan diri untuk kembali ke rumah menginapnya masing-masing guna beristirahat. Sebelum pembubaran tersebut disampaikan kepada peserta untuk kembali esok hari sekitar pukul 08.00 WIB dengan membawa barang bawaannya untuk check out rumah menginapnya.

Pagi hari tanggal 18 Mei 2014 sekitar pukul 08.00 WIB peserta kembali berkumpul di camp utama dengan barang bawaannya masing-masing. Pada saat ini sangat ditunggu-tunggu oleh para peserta yang mengikuti lomba fotografi, karena diumumkannya pemenang lomba fotografi sains yang sudah dinilai oleh juri malam harinya. Selain itu dipaparkan pula alasan-alasan mengapa juri memilih foto-foto yang telah dipilihnya menjadi juara. Dipaparkan oleh juri foto-foto yang menjadi juara memiliki keunggulan masing-masing dari segi sains sehingga juri menyatakan foto-foto tersebut berhak meraih juara. Penutupan dan kesan pesan dari peserta, panitia, dan juga warga yang diwakilkan oleh kepala dusun dan kepala desa dilakukan setelah penyerahan hadiah kepada para pemenang lomba. Kesan yang paling banyak muncul ialah kesan tentang hal-hal yang telah dilakukan selama acara jambore ini berjalan lancar dan peserta banyak mendapat pengetahuan dan ilmu baru. Pesan yang banyak disampaikan ialah untuk terus melestarikan capung dan habitatnya yang berguna untuk menunjang ekosistem khususnya daerah perairan seperti di rawa pening. Usai penutupan peserta kembali ke semarang dengan mengendarai truk. Jambore capung semacam ini baiknya dilakukan secara terus menerus untuk menambah pengetahuan demi terwujudnya konservasi capung beserta habitatnya. Satu yang menarik ialah jargon “Jambore Capung Indonesia 2014 – Capung Teman Kita Loh”.

para pemenang lomba foto setelah kegiatan

(M. Asyief. Kh. B / Himakova IPB)

Categories: News | Leave a comment

Sang burung garuda/elang jawa (Nisaetus bartelsi) kembali menampakkan dirinya di daerah Wanawisata Curug Cipendok

Oleh : Mokhamad Asyief Khasan B

Mahasiswa Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor

            Minggu (16 Maret 2014) tiga orang pengamat lingkungan hidup yaitu Apris Nur  R (Biodiversity society), Aji Setiabudi (Banyumas Wildlife Photography), dan Mokhamad Asyief (Mahasiswa Institut Pertanian Bogor) yang sedang melakukan monitoring biodivarsitas berhasil merekam keberadaan elang jawa (Nisaetus bartelsi) di Wanawisata Curug Cipendok. Tiga orang personel pengamat ini melakukan monitoring biodiversitas guna mengabadikan keanekaragaman hayati yang masih tersisa di kabupaten banyumas baik dalam bentuk gambar/foto maupun dalam bentuk video.

Elang jawa merupakan satwa unik karena bentuknya yang sangat mirip dengan bentuk lambang legara Republik Indonesia (RI) yaitu burung garuda Indonesia, sehingga disebut-sebut sebagai inspirasi pembuatan lambang negara RI saat dahulu kala oleh founding father negara RI dan sejak tahun 1993 satwa ini ditetapkan sebagai maskot satwa langka Indonesia melalui Keppres No 4 tahun 1993. Selain itu elang jawa juga merupakan satwa endemik jawa yang hanya ditemukan pada habitat liarnya di pulau jawa. Elang jawa juga merupakan satwa langka yang sangat dilindungi, sehingga oraganisasi internasional konservasi sumberdaya alam International Union for Conservation of Nature (IUCN) menetapkan elang jawa sebagai satwa yang memiliki status keterancaman terhadap kepunahan Endangered (EN) atau terancam punah. Pemerintah Indonesia pun telah menetapkan satwa ini menjadi satwa yang dilindungi melalui SK No 421/Kpts./Um/8/81970 dan diatur dalam UU No 5 tahun 1990. Konvensi perdagangan dunia (CITES) pun menetapkan elang jawa sebagai satwa yang masuk dalam daftar merah lampiran II yang melarang perdagangannya secara Internasional.

Elang jawa ini menampakkan dirinya di daerah sekitar telaga pucung dan bertengger pada ranting-ranting pohon di lereng gunung bunder.  Tepatnya pada sekitar pukul 12.30-an elang jawa memunculkan dirinya saat terbang rendah dari ranting pohon ke pohon lainnya. Elang jawa biasanya keluar untuk mencari mangasa saat kondisi suhu udara telah memanas yang dapat membantunya saat terbang. Elang ini keluar di tengah hari bisa jadi dikarenakan cuaca saat pagi yang agak mendung sehingga sinar matahari intensitasnya berkurang untuk menaikkan temperatur suhu udara permukaan tanah, namun menjelang siang cuaca perlahan-lahan menjadi cerah.

Keberadaan elang jawa di Wanawisata Curug Cipendok merupakan sebuah hal yang luar biasa. Artinya habitat ini perlu diteliti dan dikaji lebih lanjut guna mengetahui lokasi keberadaan pasti elang jawa seperti letak sarang dan juga jumlah individu yang ada. Hal ini bisa menguntungkan berbagai pihak terutama untuk promosi tentang pentingnya keberadaan hutan di Wanawisata Curug Cipendok bagi keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Selain itu keberadaan spesies ini juga dapat dijadikan sebuah paket wisata terbatas yang berbasis konservasi atau ekowisata yang cukup menarik untuk ditawarkan kepada pengunjung Wanawisata Curug Cipendok oleh pengelola, dengan harapan pengunjung dapat mengenal lebih jauh mengenai keanekaragaman yang ada di Wanawisata Curug Cipendok dan memiliki jiwa kepedulian terhadap konservasi keanekaragaman hayati.

Satwa lain yang ditemui saat monitoring ialah berbagai jenis burung seperti bentet kelabu (Lanius schach), cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster), walet linchi (Collocalia linchi), pentis pelangi (Prionochilus percussus), bondol jawa (Lonchura leucogastroides), wiwik uncuing (Cuculus sepulcralis), pelanduk semak (Malacocincla abbotti), elang hitam (Ictinaetus malayensis), dan lain-lain. Selain burung, satwa yang menjadi target pengamatan ialah primata seperti owa jawa (Hylobates moloch), dan juga lutung budeng (Trachypithecus aratus). Namun sangat disayangkan pengamat tidak mendapatkan dokumentasi primata yang memuaskan untuk kali ini. Tetapi itu semua dapat terobati dengan pengamat mendapat kejutan berupa munculnya elang jawa di sela-sela pengamatan yang menjadi sebuah catatan penting bagi pengamat. (MAKB)

Image

Foto elang jawa (dokumentasi: Aji S)

Image

Foto elang jawa dengan jambul yang tegak (dokumentasi: Apris NR)

Categories: News, Uncategorized | Leave a comment

Kemandirian Masyarakat Lereng Merapi (studi kasus desa sidorejo, kecamatan kemalang, kabupaten klaten)

Oleh : M. Asyief Khasan Budiman (Mahasiswa Kehutanan IPB)

            Merapi merupakan salah satu gunung berapi yang masih aktif di Indonesia. Keberadaannya gunung ini menjadi berkah bagi masyarakat sekitarnya, karena keadaan tanahnya yang subur menjadikan masyarakat lereng merapi banyak yang bermata pencaharian sebagai petani dan berternak. Pertanian ini ditunjang oleh tanah-tanah di lereng merapi yang subur, sementara peternakan ditunjang oleh banyaknya rumput-rumput yang tumbuh subur di sekitar merapi, baik yang di tanam maupun yang tumbuh alami. Selain itu material merapi seperti pasir dan batu vulkanik menjadi bahan tambang yang banyak diminati oleh konsumen, sehingga tidak sedikit pula masyarakat yang menjadi penambang pasir dan batu.

            Namun disamping keberkahan tersebut merapi menyimpan ancaman bagi masyarakat di lerengnya. Gunung merapi bererupsi atau memuntahkan material vulkaniknya setiap 2 – 5 tahun sekali. Oleh karenanya gunung ini dapat digolongkan menjadi gunung api yang sangat aktif. Hal ini merupakan sebuah ancaman yang serius bagi warga lereng merapi.

            Ancaman merapi bisa dirasa tiada hentinya di setiap detiknya. Bisa saja merapi tiba-tiba meningkat status aktifitasnya. Oleh karena itu perlu adanya suatu kegiatan penanggulangan bencana alam gunung meletus seperti ini. Dalam antisipasi terhadap bencana ini masyarakat lereng merapi di daerah kecamatan kemalang telah memikirkan antisipasi bencana alam ini.

            Berawal dari gagasan seorang petani tamatan SMEA yang bernama Sukiman Muchtar Pratomo (nama asli Sukiman, tambahan Muchtar Pratomo didapat setelah menikah) yang bertempat tinggal di desa sidorejo kecamatan kemalang, bersama tiga orang temannya ia membangun sebuah sarana informasi yang akurat dan dapat dijangkau oleh seluruh masyarakat. Ia menyebutkan, awalnya ia berfikir bagaimana caranya bila merapi meletus agar tidak ada korban jiwa, maka diputuskanlah ia memakai radio FM karena bila menggunakan Hand Phone (HP) bisa beresiko sinyal blank atau hilang, bila menggunakan radio Handy Talky (HT) saat itu yang hanya diperbolehkan hanya aparat pemerintahan atau lembaga dan perorangan yang memiliki izin resmi. Oleh karena sebab-sebab itu ia memutuskan memakai radio FM secara gelap. Ia pun berkata walaupun penggunaan radio FM ini secara gelap, namun radio gelap ini bisa bermanfaat untuk keselamatan masyarakat lereng merapi.

            Selanjutnya setelah banyak yang menggunakan radio dan mendengarnya, diadakanlah sebuah pertemuan tiga desa lereng merapi yaitu tegalmulyo, sidorejo, dan balerante untuk membahas lebih lanjut mengenai keberlangsungan radio ini. Dalam pertemuan tersebut tercetuslah nama radio dengan nama Radio Komunitas Lintas Merapi dengan frekuensi 106,4 FM Radio Klaten Jawa Tengah. Radio ini merupakan radio yang nirlaba atau tidak mencari keuntungan, sehingga radio ini merupakan radio milik masyarakat yang dikelola oleh masyarakat dan penyiarnya juga masyarakat yang mau. Dana operasional yang dipakai merupakan dana iuran dari warga dengan mengumpulkan dana dari masyarakat.

            Radio ini juga bukan hanya menyiarkan perihal bencana alam, namun dalam perjalanannya radio ini juga menyiarkan hiburan-hiburan kepada masyarakat luas. Namun siaran pokok merupakan informasi mengenai kondisi gunung merapi yang bisa dipantau dengan mata melalui gardu pandang yang berada di samping gedung siaran radio ini. Indormasi kondisi merapi selalu diprbaharui saat penyiar sedang on air. Sebelum kirim salam dari pendengar atau pemutaran lagu, biasanya penyiar menginformasikan keadaan merapi dan cuacanya. Diharapkan pendengar bisa mengantisipasi dengan informasi yang telah disampaikan. Dewasa ini pasca letusan 2010 antisipasi yang perlu benar-benar disiapkan yaitu banjir lahar dingin dari merapi. Karena bila di daerah puncak merapi atau hulu sungai-sungai yang ada di lereng-lereng merapi ada hujan, masyarakat di sekitar sungai-sungai itu pun perlu waspada.

            Selain itu untuk menjawab permintaan masyarakat mengenai praktek bila ada bencana, radio ini juga sering mengadakan pelatihan-pelatihan seperti pelatihan penanggulangan bencana. Selain itu radio ini pun berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) untuk meningkatkan keakuratan informasi yang disampaikan. Sampai-sampai berkoordinasi dengan desa lain untuk berjaga-jaga bila terjadi bencana gunung meletus dapat memiliki arah dan tujuan untuk mengungsi yang pasti. Pendataan warga lereng merapi pun menjadi salah satu kegiatan untuk meningkatkan antisipasi bencana. Data mengenai warga usia dewasa, anak-anak, manula, laki-laki perempuan, juga data mengenai kendaraan yang bisa dipakai bila terjadi bencana juga disusun. Sehingga keseluruhannya itu disatir menjadi sebuah prosedur tetap penanggulangan bencana yang disusun sesuai dengan kondisi di tiap desa.

            Dengan adanya radio ini diharapkan manfaat yang dapat didapatkan bisa dirasakan oleh masyarakat luas, khususnya masyarakat lereng-lereng merapi yang harus terus berhadapan dengan bahaya-bahaya dari merapi seperti saat merapi meletus dan juga banjir lahar. Selain itu diharapkan pelatihan-pelatihan yang telah diadakan dapat bermanfaat saat terjadinya bencana alam gunung meletus. Keberadaan radio seperti ini dapat menjadi contoh kemandirian warga lereng merapi. (MAKB/IPB-PKLP TNGM).

Categories: Articles | Leave a comment

Hutan Rakyat sebagai pengembangan lestari zona penyangga

Oleh : M. Asyief Khasan Budiman

(Mahasiswa Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor)

Zona Penyangga merupakan salah satu zona penting dalam menjaga keutuhan kawasan konservasi khususnya taman nasional. Zona ini merupakan kawasan yang berada di luar pengelolaan taman nasional, yaitu diokelola oleh pemilik lahan. Salah satu pengelolaan sumberdaya yang ada di luar kawasan taman nasional adalah dengan membangun hutan rakyat, agar kawasan konservasi bisa tetap terjaga keutuhannya dan dapat membangkitkan pengelolaan lahan secara lestari.

Hutan rakyat di zona penyangga berperan penting layaknya supporter sepakbola yang mendukung tim dukungannya. Perumpamaan tersebut merupakan sebuah gambaran kecil dari adanya hutan rakyat yang ada di zona penyangga kawasan taman nasional. Hutan rakyat selain berfungsi sebagai penopang kawasan taman nasional, dengan adanya hutan rakyat ini maka diharapkan dapat membangkitkan perekonomian masyarakat sekitar kawasan secara jangka pendek.

Sebagai contoh dalam bahasan kali ini yakni hutan rakyat yang ada di tritis turgo, purwobinangun, pakem sleman Yogyakarta yang berbatasan langsung dengan kawasan taman nasional gunung merapi. Hutan rakyat yang telah dibangun salah satunya ialah hutan rakyat berupa hutan sengon. Pada hutan rakyat ini hasil yang bisa diambil yaitu hasil hutan kayu berupa kayu sengon. Selain itu dapat pula diambil hasil lain berupa rumput-rumputan yang sengaja ditanam ataupun tumbuh dengan sendirinya di bawah tegakan sengon. Hal seperti ini merupakan salah satu praktek Agrosylvopastura, yakni pertanian tanaman kehutanan yang dipadukan dengan pemanfaatan lahan untuk produktifitas ternak. Perlu diketahui sebelumnya bahwasanya masyarakat tritis sebagian besar memiliki kegiatan berternak kambing ataupun sapi.

Pohon sengon yang memiliki usia panen yang relatif singkat yaitu enam sampai sepuluh tahun dan perawatan yang cukup mudah menjadi salah satu primadona tanaman hutan rakyat yang banyak digemari oleh masyarakat tritis. Rumput yang dihasilkan pun cukup baik untuk pakan ternak, karena ternak yang dimaksudkan untuk diambil susunya tersebut bisa tumbuh sehat dan dapat menghasilkan susu tiap harinya.

Hal ini merupakan sebuah potensi yang perlu dikembangkan oleh pemerintah daerah guna mendukung keutuhan kawasan konservasi yang tak bisa dipungkiri lagi manfaat adanya taman nasional ini sebagai daerah resapan air dan penyedia jasa lingkungan bagi daerah sekitarnya. Selain itu taman nasional gunung merapi dengan ekosistem yang khas sebagai ekosistem daerah volcano dengan hutan tropisnya yang memiliki potensi keanekaragaman hayati tersimpan di dalamnya dan sebagai daerah penyangga kehidupan masyarakat di daerah sekitar kawasan. (MAKB/IPB-PKLP TNGM).

Categories: Articles | Leave a comment

SUMBER, DAMPAK, DAN PENANGGULANGAN DARI PENCEMARAN AIR

Disusun oleh : M. Asyief Khasan Budiman

 

Pencemaran air adalah masuknya makhluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia, sehingga kualitas air menjadi turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya (PP No. 20/1990 pasal 1, angka 2 dalam Warlina 2004). Dari definisi dapat diartikan bahwa sumber atau penyebab dari pencemaran air adalah masuknya makhluk hidup, zat, energi dan atau komposisi lain ke dalam air sehingga menyebabkan air itu tercemar. Dalam istilah sehari-hari benda-benda tersebut dapat dikatakan sebagai unsur polutan. Pada prakteknya unsur-unsur ini dapat berupa pembuangan limbah rumah tangga, limbah industri dan limbah cair ke dalam badan air (Warlina 2004). Menurut Azwir (2006) polusi air adalah penyimpangan sifat-sifat air yang normal akibat terkontaminasi oleh material atau pertikel, dan bukan dari proses pemurnian.

Menurut Warlina (2004) beberapa sumber pencemaran air dikategorikan menjadi 2 (dua) macam, yaitu sumber kontaminan langsung dan tidak langsung. Sumber langsung yaitu meliputi efluen yang keluar dari industri, TPA sampah, rumah tangga dan sebagainya. Sumber tak langsung adalah kontaminan yang memasuki badan air dari tanah, air tanah atau atmosfir berupa hujan (Pencemaran Ling. Online 2003 dalam Warlina 2004). Semua pencemaran ini pada dasarnya berasal dari industri, rumah tangga dan pertanian. Tanah dan air tanah dapat berasal dari aktivitas manusia yang mengendap dan meresap ke dalam tanah. Sementara di atmosfer kontaminan berasal dari manusia juga yaitu pencemaran udara yang menghasilkan hujan asam (Warlina 2004). Untuk mengetahui kontaminan yang ada di dalam badan air dapat dilakukan pengujian air berdasarkan standar yang telah ditentukan oleh standar internasional, standar Nasional, maupun standar dari suatu perusahaan industri (Azwir 2006). Di dalam peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001 tentang kualitas dan pengendalian pencemaran air, mutu air diklasifikasikan menjadi 4 kelas, yaitu kelas yang peruntukanya dapat digunakan untuk air baku air minum, kelas peruntukannya sebagai sarana dan prasarana rekreasi, kemudian kelas yang peruntukannya budidaya ikan, peternakan, irigasi dan lain-lain yang mutunya sama, selanjutnya kelas air yang diperuntukan untuk hal-hal lain (Azwir 2006).

Menurut wardhana (1995), beberapa komponen pencemar air yang berasal dari industri, rumah tangga dan pertanian dapat dikelompokkan sebagai bahan buangan yaitu bahan buangan padat, bahan buangan organik dan olahan bahan makanan, bahan buangan anorganik, bahan buangan cairan berminyak, bahan buangan berupa gas, dan bahan buangan zat kimia. Komponen pencemar ini dapat dilihat atau diamati berdasarkan pengamatan fisis, secara kimiawi, dan secara biologis. Indikator yang digunakan dalam pengamatan ini yaitu pH, konsentrasi ion hidrogen, oksigen terlarut, kebutuhan oksigen biokimia, dan kebutuhan oksigen kimia (Warlina 2004).

Adapun dampak dari pencemaran air sangatlah banyak dan luas, misalnya dapat meracuni air minum, meracuni makanan hewan, menjadi penyebab penyakit, hujan asan, dan sebagainya. Namun pada umumnya dampak pencemaran air dapat diketegorikan menjadi 4 (KLH 2004), antara lain :

–         Dampak terhadap kehidupan biota air

Umumnya banyak zat pencemar limbah yang ada menyebabkan menurunnya kadar oksigen yang terlarut, sehingga menyebabkan kehidupan dalam air terganggu. Selain itu kematian dapat pula disebabkan oleh zat beracun yang merusak tanaman dan tumbuhan air.

–         Dampak terhadap kualitas air tanah

Pencemaran air tanah oleh tinja yang biasa diukur dengan faecal coliform telah terjadi dalam skala yang luas. Hal ini telah terbukti oleh suatu survey sumur dangkal di Jakarta.

–         Dampak terhadap kesehatan

Peranan air sebagai pembawa penyakit bermacam-macam. Peranan tersebut adalah sebagai media hidup mikroba patogen, sebagai sarang insekta penyebar penyakit, apabila air tak cukup manusia tidak dapat membersihkan diri, dan sebagai media hidup vektor penyakit.

–         Dampak terdhadap estetika lingkungan

Dengan semakin banyaknya polutan air, maka perairan akan semakin tercemar yang biasanya ditandai dengan bau yang menyengat disamping tummpukan yang dapat mengurangi estetika lingkungan. Limbah lemak dan minyak juga sangat mengganggu yang menyebabkan bau dan daerah sekitar limbah menjadi licin. Sedangkan limbah detergen atau sabun menyebabkan penumpukan busa yang banyak.

Untuk itu perlu penanggulangan dalam menghadapi permasalahan pencemaran air. Palam pengandalian/penanggulangan pencemaran air, pemerintah telah mengaturnya melalui PP No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas dan Pengendalian Pencemaran air. Secara umum hal ini meliputi pencemaran air baik oleh instansi maupun non-instansi (Warlina 2004). Pada prinsipnya ada 2 (dua) usaha untuk menanggulangi pencemaran, yaitu secara non-teknis dan secara teknis. Secara non-teknis yaitu usaha untuk mengurangi pencemaran lingkungan dengan cara menciptakan peraturan perundangan yang dapat merencanakan, mengatur, dan mengawasi segala macam bentuk kegiatan industri dan teknologi sehingga tidak terjadi pencemaran, sedangkan penanggulangan secara teknis bersumber pada perlakuan industri terhadap perlakuan buangannya, misalkan dengan mengubah proses, mengelola limbah atau menambah alat bantu yang dapat mengurangi pencemaran (Warlina 2004).

Menurut Sulaiman (2009) dalam prakteknya dapat juga dilakukan pengrndalian pencemaran air oleh pelaku usaha yang terdiri dari 2 (dua) cara, yaitu penetapan buku mutu air limbah dan penetapan buku mutu sungai. Buku ini dimaksudkan untuk menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup, dan menurunkan beban pencemaran lingkungan melalui upaya pengendalian pencemaran dari kegiatan RPH. Sementara sasaran dari buku ini adalah mendorong penanggungjawaban usaha dan/atau kegiatan pengolahan hasil pertanian mengolah air limbah seseuai dengan persyaratan yang telah ditentukan.

Dalam penanggulangan pencemaran pun dapat dilakukan oleh diri kita sendiri. Dalam keseharian, kita dapat mengurangi pencemaran air dengan cara mengurangi produksi sampah yang kita hasilkan setiap hari. Selain itu, kita juga dapat mendaur ulang dan mendaur pakai sampah tersebut. Menurut Warlina (2004) teknilogi dapat digunakan untuk mengatasi pencemaran air, instalasi pengolahan air bersih, instalasi pengolahan air limbah yang dioperasikan dan dipelihara dengan baik mampu menghilangkan substansi beracun dari air yang tercemar.

 

Daftar pustaka

Azwir. 2006. Analisa Pencemaaran Air Sungai Tapung kiri oleh Limbah Industri Kelapa sawit PT. Peputra Masterindo di Kabupaten Kampar. (Tesis). Semarang : Program Magister Ilmu Lingkungan Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro.

[KLH] Kementrian Lingkungan Hidup. 2004. Pengendalian Pencemaran Air. Jakarta : Kementrian Lingkungan Hidup.

Wardhana WA. 1995. Dampak Pencemaran Lingkungan. Yogyakarta : Penerbit Andi Offset Jogjakarta.

Warlina L. 2004. Pencemaran air : sumber, dampak, dan penanggulangannya. (Makalah pribadi). Bogor : Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor.

Sulaiman D. 2009. Pengendalian Pencemaran Air Limbah Agroindustri. Pedoman Desain Teknik IPAL Agroindustri V (2009) : 1-7.

Categories: Articles | 2 Comments

Nurcholis Madjid : kebebasan beragama, keadilan dan musyawarah (dalam bukunya Islam kemodernan dan keindonesiaan).

Diringkas oleh : M. Asyief Khasan. B

            Sebenar-benar ajaran ialah ajaran islam. Memang benar apa yang telah difirmankan oleh Allah tersebut, namun dalam kenyataannya beragamai ini tidaklah dibenarkan bila dipaksakan agar semua orang memeluk agama ini. Bahkan Muhammad SAW sekali pun selalu diingatkan oleh Allah bahwasanya tugas beliau hanya menyampaikan berita dari Allah, beliau tidak berhak untuk memaksa orang lain untuk percaya dan mengikutinya. Pada suatu ketika Rasulullah SAW, sebaga manusia beliau tergoda untuk memakasakan ajarannya, akan tetapi Allah mengingatkan “Seandainya Tuhanmu menghendaki, tentu berimanlah semua orang di muka bumi, tanpa kecuali. Apakah engkau (hai Muhammad) akan memaksa umat manusia sehingga mereka menjadi beriman? (QS Yunus : 99)”. Oleh karena itu kebebasa beragama adalah sangat sentral dalam tatanan social politik manusia.

Dalam menentukan pilihannya, manusia diberi kebebasan oleh Allah untuk menentukannya. Allah hanya akan memberi balasan sesuai dengan keputusan manusia, apakah ia akan menolak atau menerima kebenaran yang disampaikan oleh Muhammad SAW. Mansia bukanlah makhluk kebaikan saja seperti malaikat, dan bukan pul makhluk keahatan saja seperti setan. Manusia berada di antara keduanya dan tarik-menarik antara keduanya. Hal ini lah yang membuat manusia menjadi makhluk yang selalu dihadapkan kepada tantangan untuk berbuat baik ataupun godaan untuk berbuat jahat. Untuk itu manusia diperintahkan oleh Allah untuk berbuat adil, karena berbuat adil ialah perbuatan yang paling mendekati taqwa (dalam QS An-Nahl : 90, dan QS Al-Ma’idah : 8). Dengan keadilan, maka peradaban manusia yang kukuh dapat terwujud, karena keadilan adalah dasar moral bagi manusia untuk berbuat baik dan merupakan modal yang kuat untuk membangun peradaban manusia sepanjang sejarah.

Keadilan ini menjadi poin penting yang patut untuk dijwai oleh setiap manusia. Dalam kesehariannya manusia merupakan makhluk sosial, oleh karena itu pandangan manusia tentang adil merupakan suatu hal yang dapat mengantar kepada kemantapan sosial dan juga kemantapan pluralism atau keberagaman baik dalam suku, ras, golongan, maupun keberagaman manusia dalam beragama. Untuk itu diperlukan jiwa keadilan dalam tiap diri agar terciptanya persatuan. Persatuan yang akan membawa kemajuan yakni persatuan yang dinamis, artinya persatuan dalam kemajemukan yang diterjemahkan dalam semboyan Negara Republik Indonesia yaitu “Bhineka Tunggal Ika”. Semangat pluralisme dan saling menghormati yang tulus juga saling menghargai ini lah yang akan menjadi pangkal bagi adanya pergaulan dalam tataran kemanusiaan. Dalam proses bersosial, berpolitik, maupun berdemokrasi. Semangat tersebut juga menuntut adanya toleransi antar individu, semangat bertenggang rasa, dan juga keharmonisan dalam berhubungan sosial. Maka implikasi dari adanya semangat-semangat yang dibawa oleh rasa keadilan tersebut adalah adanya sifat saling menghargai, menghargai pendapat orang lain karena dalam berproses manusia merupakan makhluk yang bisa saja salah dan bisa pula pendapat orang lain lebih benar dari pada pendapat dari seseorang. Untuk itu lah timbul suatu konsep yang sering dinamakan bermusyawarah untuk bersama-sama menyelesaikan segala urusan dunia yang berhubungan dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia.

Konsepsi musyawarah ini diterjemahkan dalam pribadi masing-masing sebagai sebuah prinsip musyawarah yang pantas untuk dimiliki oleh semua orang. Memberikan gagasan kepada orang lain, dan juga mendengarkan gagasan orang lain. Hubungan timbal balik ini dalam pelaksanaannya akan mendapat suatu jalan yang terbaik bagi setiap urusan yang dihadapi manusia. Bahkan Rasulullah pun dalam urusan bermasyarakat diperintahkan oleh Allah untuk menjalankan musyawarah, dan untuk bersikap teguh melaksanakan musyawarah itu dengan bertawakal kepada Allah (dalam QS Ali Imran : 159). Bila ditinjau lebih mendalam, musyawarah tidak hanya perwujudan dari rasa kemanusiaan, namun juga didasari suatu wujud ketuhanan atau didasari oleh ketaqwaan.

Berdasarkan hal-hal tersebut, maka setiap masyarakat perlu memailiki komitmen yang sungguh-sungguh terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yaitu iman, dan berusaha secara sungguh-sungguh untuk mengejawantahkan komitmennya itu dalam setiap tindakannya yang etis dan bermoral, mengikuti kemanusiaan yang adil dan beradab agar terciptanya persatuan dalam lingkup masyarakat, sosial, politik, bernegara, dan juga berbangsa. Namun karena keterbatasan manusia dalam memahami persoalan hidupnya sendiri dan masyarakatnya, maka diperlukan adanya suatu musyawarah atau diskusi yang lebih mendalam yang memungkinkan akan terciptanya suatu sistem yang memberi ruang untuk membuka fikiran dan menyampaikan pendapat. Hal ini pula akan mengantarkan manusia kepada kemantapan dalam pembangunan baik berbangsa dan bernegara, maupun dalam tatanan sosial manusia. Tujuannya hanyalah mewujudkan suatu hal yang paling baik secara bersama-sama dan ini pula yang menjadi landasan untuk memperjuangkannya dengan penuh ketabahan, ketekunan, dan kerja keras, dalam arti lain kesabaran dalam bermasyarakat. [end]

Categories: Articles | Leave a comment

Kehutanan, konservasi dan masyarakat luas : Peran mahasiswa dalam promosi konservasi

penjelasan di stand dan pencerdasan mengenai konservasi kepada masyarakat luas

penjelasan di stand dan pencerdasan mengenai konservasi kepada masyarakat luas

tampak salah satu penggelar acara sedang atraksi dengan seekor ular di tangannya

tampak salah satu penggelar acara sedang atraksi dengan seekor ular di tangannya

terlihat pengunjung sedang menandatangani pesan dan kesan expo Himakova

terlihat pengunjung sedang menandatangani pesan dan kesan expo Himakova

lukisan nyi roro kidul yang ada di expo Himakova (Hasi foto dicetak pada banner)

lukisan nyi roro kidul yang ada di expo Himakova (Hasi foto dicetak pada banner)

Kehutanan merupakan salah satu bagian dari pertanian secara luas. Artinya salah satu pengelolaan sumberdaya alam yang ada di muka bumi ini bertonggak pada sektor ini. Sektor kehutanan tak lepas pula pada sosok jiwa muda atau dalam hal ini membahas tentang peran dari mahasiswa dalam hal konservasi khususnya konservasi sumberdaya hutan.

Pengelolaan sumberdaya hutan merupakan hal yang sangat penting agar kelestarian dari sumberdaya hutan ini dapat tetap terjaga dan bias dimanfaatkan secara terus menerus dengan bijaksana. Pengelolaan ini dipandang perlu memegang azas konservasi yaitu perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan secara lestari. Azas konservasi ini dirasa perlu untuk dipromosikan secara luas. Agar masyarakat luas pun merasa memiliki dan mengerti akan pentingnya konservasi baik sumberdaya alam maupun lingkungannya. Promosi ini dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain dengan aksi damai turun ke jalan, promosi terbuka, pameran, seminar, dan cara-cara lainnya yang dapat menarik perhatian masyarakat secara luas.

Berbagai macam promosi konservasi banyak dilakukan oleh berbagai kalangan termasuk kalangan muda dari kaum intelektual mahasiswa. Pada tanggal 28 dan 29 November 2012 telah diadakan suatu kegiatan yang merupakan salah satu bukti real dari mahasiswa dalam hal promosi tentang konservasi. Kegiatan ini degelar oleh suatu organisasi kemahasiswaan tingkat departemen di IPB yakni Himakova atau Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan IPB. Kegiatan ini berupa expo dengan berbagai atraksi dan pamerannya. Pameran yang ditunjukan antara lain pameran mengenai foto-foto keindahan alam, hutan dan keanekaragaman hayati yang telah berhasil direkam dan diabadikan oleh mahasiswa tersebut. Ada pula pameran mengenai hasil-hasil ekspedisi yang telah dilaksanakan oleh Himakova seperti laporan ilmiah dan juga beberapa bukti-bukti fisiknya. Bukti-bukti fisik ini pun cukup menarik seperti hasil gypsum jejak mamalia, bulu burung yang ditemukan, herbarium/awetan dari tumbuhan, awetan specimen mati dan banyak lagi yang ditampilkan. Sementara atraksi yang paling banyak diminati oleh pengunjung expo ini yakni atraksi mengenai spesimen hidup yang sengaja dibawa oleh mahasiswa-mahsiswa yang menggelar kegiatan ini. Atraksi ini berupa penjelasan mengenai satwa-satwa, kebiasaannya dan perannya dalam ekologi di dalam hutan.

Kegiatan semacam ini perlu diketahui dan digelar lebih luas lagi untuk kemudian mempromosikan tentang konservasi dan pentingnya konservasi bagi kehidupan. Selain itu kegiatan semacam ini pun banyak memberikan pengetahuan baru bagi masyarakat luas khususnya pengunjung dari expo semacam ini. Selain pengetahuan tentang konservasi, pengetahuan lain mengenai pengelolaan sumberdaya hutan dan ilmu-ilmu yang mempelajari mengenai satwa atau tumbuhan pun bias didapat di kegiatan semacam ini.

Dari kegiatan-kegiatan ini ternyata dapat dilihat bahwasanya konservasi tidak menutup kemungkinan untuk pemanfaatan dalam hal ekonomi, ekologi, sosial, dan kebudayaan masyarakat secara umum. Konservasi pun dalam aplikasinya ternyata dalam kehidupan sehari-hari pun dapat diaplikasikan dengan bersama-sama menjaga hutan, dan praktek gaya hidup sehat dan hijau atau ramah lingkungan. Untuk itu pembaca diharapkan bersama-sama dengan penulis dan kawan-kawan mahasiswa konservasi sumberdaya hutan dan ekowisata fakultas kehutanan ipb diharapkan dapat bersama-sama untuk menjaga hutan dan lingkungan, minimal lingkungan di sekitar diri kita sendiri.

(M. A. K. Budiman)

Categories: News, Uncategorized | Leave a comment

Hidup Lebih Mul…

Hidup Lebih Mulia bila bisa Bermanfaat bagi orang lain minimal orang-orang disekitarnya

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Blog at WordPress.com.

From Swerve of Shore

A Blog by Photographer Aaron Joel Santos

Stories from home

Photography, family and friends (+ Oliver the dog!)

Day by Day the Farm Girl Way...

Simple life on a little piece of land.

Beetles In The Bush

Experiences and reflections of a Missouri entomologist

Meanwhile, back at the ranch...

music, poetry, musings, photography and philosophy from a woman who found her way back home and wants you to come over for a hike and a cocktail.

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.