“Terbunuhnya Hasan Al-Bana” : Menguak Misteri Gerakan Dakwah di Kampus : Apa, Siapa Aktor di balik Layar serta Tujuan Akhirnya.

Hasan Albana merupakan seorang pendiri gerakan yang mengatasnamakan pergerakan agama Islam yang dinamakan Ikhwanul Muslimin (IM). Pergerakan ini pada awalnya didirikan di mesir dengan tujuan melawan pemikiran-pemikiran barat yang pada waktu itu tengah melanda mesir, pemikiran tersebut yaitu liberalisme, sekulerisme, dan pemikiran barat lainnya. Organisasi ini didirikan awalnya di sebuah kedai kopi di salah satu kota di mesir dengan anggota 6 orang. Namun dengan penyampaian dan pidato juga ceramah yang diadakan Hasan Albana, organisasi ini berkembang pesat hingga banyak pengikutnya yang mau turut berpartisipasi dalam gerakan-gerakan yang dilakukannya. Akibatnya banyak penguasa mesir waktu itu merasa terancam akan adanya pergerakan Ikhwanul Muslimin yang dipimpin sendiri oleh Hasan Albana. Pada akhirnya Hasan Albana terbunuh dan banyak dari anggotanya ditangkap oleh pemerintah.

Pergerakan setelah terbunuhnya Hasan Albana ternyata tidak sesuai dengan perkiraan pemimpin mesir pada waktu itu. Bahkan pengaruhnya sampai pada jazirah arab lainnya. Sehingga sampai pada waktu dewasa ini pengaruhnya masih bisa dirasakan sampai di Indonesia. Pergerakan-pergerakan dengan model seperti IM banyak dipakai oleh beberapa organisasi di indonesia seperti organisasi kemahasiswaan dan juga partai politik. Pergerakan IM yang ingin memakai khilafah islamiyah dalam pemerintahan ini dirasa kurang sesuai dengan idealis dan karakter bangsa indonesia yang memiliki dasar negara pancasila dan memiliki semboyan Bhineka tunggal ika, karena pergerakan yang dilakukan IM yakni pergerakan militan dan menghomogenkan suatu bangsa atau pemerintahan.

Point penting yang perlu dikaji adalah kaitan antara gerakan trans-nasional, nasional, dan juga kemahasiswaan. Tak bisa dipungkiri bahwasanya pergerakan seperti ini sepenuhnya salah, namun tidak dibenarkan pula dengan menghomogenkan seluruh rakyat indonesia dengan pandangan islamisasi, apalagi praktek seperti ini sampai dilakukan di kalangan mahasiswa dengan menghomogenkan kegiatan-kegiatan kampus yang membatasi ruang-ruang pemikiran kritis lainnya. Padahal mahasiswa haruslah mempertahankan indepedensinya. Yang dilakukan oleh golongan-golongan penganut gerakan IM ternyata ada kaitannya pula dengan partai politik dan itu pun jelas telah melanggar indepedensi mahasiswa dalam tataran politik sebagai agen independen yang berfungsi sebagai social control of government.

Dalam pembahasan lebih lanjut kaitan ini telah dipaparkan secara jelas oleh thesis dari Estu Miyarso, M.Pd yang berjudul Pendidikan Politik Mahasiswa (Studi Kasus Netralitas Ormawa UNY dalam Pemilu 2009). Dalam artikelnya ia menyebutkan pergerakan IM berkaitan erat dengan partai politik yakni PKS (Partai Keadilan Sejahtera) dan Organisasi Mahasiswa KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia). Artikel ini berhasil membongkar fakta-fakta yang terjadi yakni bagaimana menghomogenkan dan mengkebiri mahasiswa di UNY dalam berpola pikir dan bertindaknya. Kegiatan yang dilakukan yakni secara terbuka maupun secara terselubung dalam acara-acara yang diadakan di kampus. Hal ini pun yang sangat dikhawatirkan apabila di IPB terjadi hal-hal semacam itu. Imbas yang paling mengerikan dalam pemaparan Miyarso (2009) yakni pendidikan politik yang dilakukan di kampus tidak lain yakni kegiatan kampanye politik yang bersifat laten. Bentuk yang dilakukan yaitu semacam indoktrinasi dengan teknik propaganda dengan tujuannya untuk mendapatkan kader-kader ideologi gerakan IM melalui Organisasi Mahasiswa KAMMI maupun parpol PKS baik kuantitas maupun kualitas.

Pada artikelnya Miyarso (2009) menerangkan bahwasanya Organi Mahasiswa internal kampus menyatakan dukungan secara terbuka, namun keberpihakannya sangat kental dan delakukan oleh aktifis maupun simpatisan dari PKS untuk dilakukan di dalam kampus, dan ini merupakan sebuah fenomena nyata yang terjadi di kampus UNY pada waktu itu. Hal ini sangat dikhawatirkan bila terjadi di kampus IPB dengan semakin dekatnya pemilu 2014 dan adanya pengkaderan secara langsung maupun tidak langsung dalam setiap kegiatan-kegiatan yang ada di kampus IPB entah dalam tataran pemilihan Rektor maupun Presiden Mahasiswa beserta Wakilnya dan juga Ketua BEM Fakultas yang ada di IPB.

Dampak negatif yang dirasakan bila hal ini benar terjadi di Kampus IPB yaitu pemahaman, sikap, dan perilaku mahasiswa terhadap kegiatan-kegiatan politik baik untuk tingkatan kampus maupun Nasional hanya bersifat puritan (hanya sedikit yang mau membahas tentang politik dan terjadi blok blok yang tidak jelas prioritasnya untuk selain golongan kader IM) dan juga bersifat partisan (hanya ikut-ikutan tanpa tahu maksud, tujuan, dan dasarannya). Demikian hal ini terjadi artinya kadar kritis dari pikiran mahasiswa yang seharusnya menjadi kontrol sosial pemerintah telah luntur, dan gerakan yang dilakukan oleh pemerintah dalam mencurangi rakyat atau hukum bisa berjalan mulus bila berasal dari Partai tersebut, karena mahasiswa non-IM merasa tak peduli dengan isu politik dan tak mau terlibat di dalamnya yang dikarenakan mahasiswa menjadi puritan dalam hal politik dan pergerakan mahasiswa maupun organisasi.

Namun hal ini dapat diatasi bila mahasiswa secara umum mau melihat masalah politik secara bersama-sama tanpa ada pendeskreditan sebuah golongan dan dalam pembahasannya pun dilakukan secara makro. Selanjutnya gerakan menghomogenkan perlu dibredel dan mengembalikan juga mempertahankan ideologi NKRI yakni Pancasila dengan semboyannya Bhineka tunggal ika. Perlu pula gerakan-gerakan yang terorganisir untuk menyebarkan pentingnya peta politik kampus dan nasional agar tak terjadi tumpang tindih kepentingan di luar kemahasiswaan. Paling perlu disadari dari tiap gerakan yang ada baik kampus maupun nasional yaitu memahami cultural dan karakter tempat dimana ia bergerak dalam tataran kampus maupun nasional. ( M. A. K. Budiman).

Categories: Articles, Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

From Swerve of Shore

A Blog by Photographer Aaron Joel Santos

Stories from home

Photography, family and friends (+ Oliver the dog!)

Day by Day the Farm Girl Way...

Simple life on a little piece of land.

Beetles In The Bush

Experiences and reflections of a Missouri entomologist

Meanwhile, back at the ranch...

music, poetry, musings, photography and philosophy from a woman who found her way back home and wants you to come over for a hike and a cocktail.

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: